Setelah aktivitas perkuliahan itu berakhir tanpa menunggu lebih lama lagi, Athifah langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan berjalan keluar kelas. Tak ada hal lain dalam pikirannya selain perutnya yang keroncongan dari tadi dan kasur empuk yang ada di kamarnya. Wajarlah jika pikiran Athifah hanya makan dan tidur karena pagi tadi dia harus mengikhlaskan tidurnya terpending sebab jam 7.30 dirinya harus ada di kampus, sarapan pun dia tak sempat. Sungguh kuliah dari pagi sampai tengah hari begini sangatlah menguras tenaga...
“Fha, Fha.. tunggu!!”
Langkah Athifah pun terhenti, sepertinya ada suara yang memanggilnya dari belakang. Setelah menolehkan badan dia pun melihat sosok Noura yang berlari menghampirinya.
“Ada apa Rha?” tanya Athifah
“Kamu mau kemana sih, buru-buru banget.. Nda mau rapat??” sahut Noura
“Astagfirullah, aku lupa kalau ada rapat. Abis capek banget nih.. udah lapar, ngantuk, panas lagi. Hehehe” Keluh Athifah
“ iya, iya tapi kan aku dah ngingetin nich jadi nda lupa lagi kan, ayolah kita pergi makan dulu setelah itu ikut rapat, tidurnya di tunda dulu.. ayolah, amanah nich.” Bujuk Noura
“iya dech, apa sich yang tidak buat sahabatku ini.” Jawab Athifah
“Hehehe” Noura hanya tersenyum menggoda ketika melihat sahabatnya ini takluk atas bujukannya..
Mereka berdua pun berjalan menuju sebuah warung sederhana yang berada tak jauh dari kampusnya untuk memenuhi “panggilan alam”, istilah mereka untuk menyebut kata lapar. Di tengah jalan, keduanya bertemu dengan sosok pemuda yang tak asing lagi bagi mereka, Si kakak senior yang sering mereka jumpai ketika mengikuti pengajian di mesjid kampus. Panggil saja namanya Ihsan. Dia seorang aktivis dakwah di kampus Athifah, orangnya alim dan ramah. Meski dirinya disibukkan oleh aktivitas di mesjid sehingga dipanggil P’ Uztads dia tak segan untuk berteman dengan “preman-preman kampus” dia bergaul dengan siapa saja tanpa memandang bulu. Hidupnya yang membaur tak monoton membuatnya dikagumi oleh para gadis di kampus tersebut.
***
Dalam suatu kegiatan, Athifah dan Ihsan berada dalam satu tim karenanya mereka harus selalu berkomunikasi demi lancarnya kegiatan ini. Karena keseringan berinteraksi baik di dunia nyata maupun maya membuat perasaan Athifah kian tak menentu, apakah sebatas kagum atau telah tumbuh rasa yang lain . Siang malam yang ada dalam pikirannya hanya ada satu nama “Ihsan”. (Cihuiii)
Ketika asyik dalam lamunannya, tiba-tiba Athifah dikagetkan oleh dering hpnya. Dan hmmm.. Jantungnya berdetak cepat (seperti genderang mau perang). Sms dari doi nih, menanyakan tentang sejauh mana persiapan untuk acara di kampusnya. Athifah pun membalasnya, dan iseng-iseng dia menambahkan beberapa pertanyaan pribadi. Dijawab, Alhamdulillah, tidak dibalas yach tidak apa-apalah namanya usaha... Hal yang tidak sangka-sangka, ternyata Ihsan membalas beberapa pertanyaan Athifah. Dan akhirnya, komunikasi pun berlanjut sampai ke permasalahan pribadi. (wah, setan mulai ikut andil nih)..
Merasa nyambung satu sama lain, komunikasi pun tetap jalan meski kegiatan telah dilaksanakan. Mulai dari sekedar basa-basi hingga ke ajang curhat-curhatan.. Dan akhirnya, benih-benih cinta mulai bersemi di hati keduanya. Ihsan menyatakan perasaannya kepada Athifah. Keduanya resmi berpacaran walau hanya mereka berdua yang mengetahui hal tersebut.
(begitulah benih cinta, tak kenal lahan gersang maupun subur, ia akan tumbuh begitu saja).
***
Hari-hari yang indah pun dilalui bersama meski tak berinteraksi secara langsung, hubungan mereka semakin dekat lewat smsan atau ngobrol lewat hp. Saling mengumbar perasaan, menggoda satu sama lain. (Astagfirullah)
Sampai pada suatu hari, Athifah mendapat amanah untuk menyajikan materi tentang Interaksi Ikhwan Akhwat dalam sebuah forum diskusi. Hatinya pun bergejolak, bagaimana mungkin ia menyampaikan sesuatu padahal dirinya sendiri melakukannya.
Di dalam kamar, ia merenungi dirinya, Athifah menangis tersedu-sedu. Ia menyesali perbuatannya selama ini. Tak tahu apa yang harus dia perbuat, tiba-tiba tangannya memencet sebuah nomor. Terdengar suara dari seberang sana.
“Assalamu Alaikum”
“Waalaikum salam Kak”. Balas Athifah
“Ada apa D’ kok kedengarannya seperti orang yang sedang menangis, ada masalah yah?”
“Iya K’, ana bingung, ana takut” Jawab Athifah sambil berusaha menahan tangisannya
“Bingung,? Ade takut sama siapa??” Ihsan mulai penasaran, apa yang terjadi pada diri Athifah. Baru kali ini dia aneh seperti ini.
“Ana takut sama Allah K’, Athifah bingung dengan perasaan ini. Ana sayang Ka2 tapi ana juga takut K’. Kita telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya kita begini K’. Kita telah membohongi perasaan masing-masing” Jelas Athifah.
Hening sejenak, Ihsan tak bisa berkata-kata lagi. Ia mulai menyadari kesalahannya selama ini.
“Ka’ kenapa diam??” tanya Athifah
“Ka2 harus bilang apalagi D’? Ade’ betul kita telah melakukan dosa..” Jawab Ihsan perlahan
Hanya suara tangisan yang terdengar dari Athifah
Tak ada kata-kata lagi yang mampu terucap, semua dalam hening. Sambungan telepon pun terputus karena hp Athifah lowbet.
***
Pagi ini, tubuh Athifah terasa lesu. Semalam dirinya tidak tidur, dia terus memikirkan permasalahannya. Tiit.. tiit... tiiit HPx berdering, sms dari Ihsan
“Maafkan aku karena telah mencintaimu, sehingga membuat pikiranmu menjadi kacau dan membuatmu merasa tak nyaman”.
Hanya kata-kata itu dari Ihsan, Athifah tak tahu maksud dari pesan ini. Dirinya mencoba menebak apa maksud dari pesan tersebut. Ia tambah bingung dengan keadaannya. Di tengah kegalauannya, tiba-tiba Athifah mendengar musik dari tetangga kamarnya yang mengena untuk dirinya.
Usai sudah cinta berakhir disini
Biarkanlah aku sendiri
Tanpa dirimu
Usai sudah cinta kini kau sendiri
Lupakan aku pernah ada
Mengisi hatimu
Tanpa dirimu
Usai sudah cinta kini kau sendiri
Lupakan aku pernah ada
Mengisi hatimu
Ia pun telah bertekad untuk mengakhiri hubungannya meski ia tidak bisa membohongi dirinya kalau perasaan itu masih ada. Ia yakin setelah ini Insya Allah semua akan baik-baik saja. Dunia tidak akan berakhir hanya karena tidak memiliki someone special.”Semua akan indah pada waktunya” begitulah yakinnya saat ini.
Athifah mengirim lirik lagu tadi ke Ihsan dan kemudian menambah catatan di bawahnya
“Mungkin memang kita yang terlalu naïf membiarkan perasaan itu ada dan terlalu jujur untuk mengungkapkannya”. (Sent)
New Message
“Biarkan waktu menyembunyikannya. Cukup sampai di sini kita bergelimang dosa. Insya Allah kita akan mendapatkan yang terbaik nantinya”.
“Mari perbaiki yang telah rusak. Semoga Allah membersihkan hati yang penuh noda ini. Jikalau tak mampu lagi dibersihkan semoga Allah menggantinya dengan yang baru”.
Setelah menerima sms tersebut, perasaan Athifah sedikit lega. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur karena Allah masih sayang kepada dirinya. Allah tak membiarkan Athifah bergelut dengan dosa lebih lama lagi.
Biarkan bibit cinta ini merekah pada waktunya..
Dan jika bibit cinta ini telah menemukan tanah yang cocok untuknya..
Ijinkan aku memupuknya, menyiraminya, merawatnya dan menjaganya ya Rabb...
Idha

Tidak ada komentar:
Posting Komentar